Archives

gravatar

Sejarah Awal Bugis

Sejarah Awal Bugis
Tidak seperti bahagian Asia Tenggara yang lain, Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas ialah tulisan Lontara yang berdasarkan skripBrahmi, dimana ia dibawa melalui perdagangan. Kekurangan pengaruh India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

TRANS STUDIO THEME PARK

Trans Studio - Makassar
Trans Studio Theme Park adalah taman hiburan indoor terbesar di Indonesia. Di atas lahan seluas 2.7 Hektar , Trans Studio Theme Park menyajikan 21 wahana permainan dan bermacam bentuk hiburan yang terdapat dalam 4 kawasan dengan tema yang berbeda dan unik.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Tulisan Kecil tentang Soppeng

Soppeng-Kota Kalong
BAU menyengat khas kelelawar atau biasa disebut kalong, langsung menusuk hidung begitu kendaraan memasuki Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng (150 kilometer utara Makassar). Bau ini akan makin menusuk hidung bila berada tepat di bawah pepohonan yang ada di sekitar masjid. Suara ribut dan berisik yang khas dari ribuan kalong nyaris tidak pernah berhenti.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Sutera dari Kota Sengkang

Contoh Sarung sutera Sengkang
Produksi sarung sutera yang dalam bahasa Bugis-Makassarnya lipa sabbe, dipasok dari empat daerah masing-masing Majene, Polewali, Wajo dan Soppeng. Namun yang lebih terkenal baik dalam skala lokal maupun nasional, bahkan mancanegara adalah sarung sutera dari Kabupaten Wajo. Pasalnya, baik corak maupun kualitasnya memiliki keunggulan yang lebih dibanding produksi daerah lainnya.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Tari Pakkarena Makassar

Gambar Tari Pakkarena
Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa. Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Benteng Fort Rotterdam

Sejarah Singkat
Benteng fort Rotterdam
Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu benteng di Sulawesi Selatan yang boleh dianggap megah dan menawan. Seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”. Pada awalnya benteng ini disebut Benteng Jumpandang (Ujung Pandang).

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Dukung Tana Toraja Menjadi Warisan Budaya Dunia

Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Jepang mendukung usaha Indonesia menjadikan Tana Toraja sebagai nominasi warisan dunia. Untuk itu, Jepang akan ikut dalam upaya konservasi di Tana Toraja, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu.



Pemerintah Jepang memiliki banyak ahli dan data yang kuat dalam konservasi.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Indo Logo (Lagu khas Bugis)

=================================================
Lirik Lagu Indo Logo
Dua bulu' samanna mat tettongeng, Indo' Logo
Dua bulu' samanna mat tettongeng, Indo' Logo
Kegasi samanna rionroi, ala rionroi
Palla bu' sengereng
Palla bu' sengereng

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Sejarah Bone

Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Kerajaan Bone yang dalam catatan sejarah didirikan oleh ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroe ri Bontoala, pertengahan abad ke-17 (A. Sultan Kasim,2002).

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Bantimurung The ’Kingdom Of Butterfly

Kupu-kupu BT. Murun
Taman wisata alam Bantimurung berada di Kabupaten Maros, terletak 50 km dari Kota Makassar atau 15 km dari kota Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan yang hanya ditempu satu jam dari Makassar ini, merupakan kawasan wisata yang sangat cocok untuk berlibur bersama keluarga, dan miniatur kupu-kupu raksasa serta patung kera menandai kita memasuki kawasan Bantimurung. Karena keindahan kawasan ini, maka pantaslah jika obyek wisata Bantimurung diberi julukan sebagai The Beast Family Holyday.

The Nature Park Of Bantimurung in Maros of south sulawesi, 50 Km from Makassar city or 15 Km from MAros. this place you can have with 1 hour from makassar. this place very compatible for travelling with family. the miniatur of butterfly and artifact of bantimurung traveling has name The best family holiday.

Untuk memasuki area Bantimurung, Anda cukup membayar tiket masuk seharga Rp.5.000 untuk Dewasa dan Rp.4.000 untuk anak-anak, sudah bisa menikmati berbagai fasilitas yang ada di dalam kawasan yang baru-baru ini dikunjungi dan diperkenalkan ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Kawasan yang memiliki luasnya sekitar 24 hektar ini, selain dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, juga terbuka akses untuk angkutan umum (pete-pete), melalui kota Maros atau dapat di carter menuju lokasi obyek.
 
if you want to visit in bantimurung area you can only puy ticket that price Rp. 5000 and Rp.400 for children. and you can have to enjoyed much facility. this place have ever to show with President of Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. This area have a width 24 Ha. you can have this are with your private transportation and public transformation too (pete-pete), from maros to the location.

Pintu Gerbang Lokasi BT. Murung
Dalam kawasan banyak aktifitas atau kegiatan yang dapat Anda lakukan bersama keluarga, diantaranya tersedia sarana permandian buat anak-anak. Jadi buat Anda yang membawah anak kecil tidak perlua kuatir akan derasnya aliran sungai, yang berada di seputaran kawasan air terjung Bantimurung, karena tersedia kolam permandian khusus anak-anak. Dalam kawasan Anda bersama-sama keluarga, juga bisa mennyantap bekal yang di bawah dari rumah, cukup hanya dengan menyewa pendopo-pendopo mungil ke pengelola, dengan tarif berfasiasi antara Rp40.000- Rp60.000 per-pendopo.

In This place you can do much activity with your family, other this one swimming pool for children. so if you common with your children don’t worry that big waterfall in bantimurung area. in this area you can eat that you give from your home only pay a small house with the variations price between Rp.40.000-Rp.60.000 / house.
Puas menikmati permandian air terjung Bantimurung, Anda dapat mengunjungi Goa mimpi dan danau Toakala, sambil menikmati kupu-kupu dan binatang kera jenis Maccala Maura yang sudah langkah dan terkadang muncul secara tiba-tiba di area Toakala. Selain itu juga terdapat Museum istana kupu-kupu dan penangkarannya.
Kawasan ini juga dikenal sebagai ’kingdom of butterfly’, karena kita dapat melihat berbagai macam kupu-kupu berterbangan di alam bebas seputar penankaran.Di museum istanah kupu-kupu, terdapat kurang lebih 200 spesies kupu-kupu di dalamnya,diantaranya spesies Papillo Androcles yang tergolong langka, tidak dijumpai di daerah-daerah lain, Troides hypolitus, Troides helena, Troides halipron, Papilio adamanthis dan Chetosia myrana.

have  you finished  like to enjoy wit bantimurung waterfall, you can visit to dream of path. and Toakala Lake, you can have enjoy with Much butterfly, and Primata like maccala Maura come in toakala area. other this one the kingdom of butterfly because we can see much butterfly 200 of species. other this one Troides hypolitus, Troides helena, Troides halipron, Papilio adamanthis and Chetosia myrana.

Kepala seksi kawasan Bantimurung, H. Abd.Gafar S.Sos, kepada kemilau mengatakan,pengelolah akan menyediakan permainan baru dalam kawasan Bantimurung. “Tidak lama lagi pengujung khususnya anak-anak, dapat menikmati fasilitas bermain yakni, Bom-bom Car di area Bantimurung, tepatnya 2008 sudah difungsikan”.

Sebagai buah tangan anda dan keluarga, dapat membawah pulang cendera mata dari Bantimurung, berupa kenang-kenangan atau oleh-oleh, buat teman dan keluarga yang kebetulan tidak sempat bertanda ke taman wisata alam Bantimurung, seperti gantungan kunci dengan harga yang bervariasi antara Rp5.000 sampai Rp15.000. Ada juga kupu-kupu dengan spesies beragam, yang telah diawetkan dan dibingkai rapi buat dijadikan sebagai hiasan dinding ruamh tamu, dengan harga berkisar Rp50.000 hingga Rp200.000.

if you want to give a merchandise for your family and your friend from this bantimurung you can choice a hang of key, butterfly, wall accessories with price Rp.50.000,- Rp.200.000,-
Di lokasi ini juga tersedia fasilitas penunjang lainnya seperti Wisma, Lapangan tenis, Musolah, Gazebo, WC umum, Kios PKK, rumah makan dan Area parkir yang luas.

Sumber: Mbah Google

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Sejarah Kabupaten Wajo

Lambang Kab. Wajo
Wajo berarti bayangan atau bayang bayang (wajo-wajo). Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat baru 605 tahun yang lalu yang merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu. Bupati Wajo: Drs.Andi Burhanuddin Undru,MM
Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo=bugis)pohon bajo diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat membentuk kerajaan wajo Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo.
Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo yaitu kisah We Tadampali seorang putri dari kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. beliau dihanyutkan hingga masuk daerah tosora. Daerah itu kemudian disebut majauleng berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli'(kulit. Konon kabarnya beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai sakkoli (sakke'=pulih ; oli = kulit) sehingga beliau sembuh.

Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru. Sehingga suatu saat datang seorang pangeran dari bone (ada juga yang mengatakan soppeng) yang beristirahat didekat perkampungan we tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja wajo Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagai mana kerajaan kerajaan di sulawesi selatan umumnya. Tipe kerajaan wajo bukanlah feodal murni tapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.

Dalam sejarah perkembangan kerajaan wajo, wajo mengalami masa keemasan pada zaman La tadampare puang rimaggalatung Arung Matowa Wajo ke-6 pada abad 15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk Islam.

Pada abad 16 dan 17 terjadi persaingan antara kerajaan makasar (Gowa tallo) dengan kerajaan bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi gowa Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke belanda. Saat gowa dikalahkan oleh armada gabungan bone, soppeng, voc dan buton, Arung matowa wajo pada saat itu La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian Bungayya.

Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan wajo, tepatnya benteng tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan bone dibawah pimpinan Arung Palakka.
Setelah wajo ditaklukkan, tibalah wajo pada titik nadirnya. Banyak orang wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah.

Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir beliau memerdekakan wajo. Sehingga beliau mendapat gelar (Petta Pamaradekangngi Wajo) tuan yang memerdekakan wajo.

Arung Matowa Wajo masih kontroversi, versi pertama pemegang jabatan arung matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai arung matowa wajo ke-45 setelah beliau terjadi kelowongan hingga wajo melebur ke Republik versi kedua hampir sama dengan pertama, tapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan arung matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke republik versi ketiga setelah lowongnya jabatan arung matowa, maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat arung matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan wajo diserahkan kepada gubernur sulawesi saat itu, bapak Ratulangi demikianlah sejarah wajo hingga melebur ke republik ini hingga kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.

Kabupaten Wajo dulunya terdiri dari 10 kecamatan, akan tetapi sejak tahun 2000 terjadi pemekaran hingga saat ini terdapat 14 kecamatan.


Sumber: Wikipedia

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Sejarah Masuknya Islam Ditanah Bone

Tanah Bugis, Dalam mewujudkan supremasi kekuasaan di wilayah Sulawesi Selatan, kerajaan Bone dan Gowa dalam banyak kesempatan seringkali berseberangan. Pertimbangan politik tampaknya menjadi alasan mengapa hal itu terjadi. Ketika kerajaan Gowa mengajak para penguasa di tanah Bugis untuk menerima Islam
Dalam mewujudkan supremasi kekuasaan di wilayah Sulawesi Selatan, kerajaan Bone dan Gowa dalam banyak kesempatan seringkali berseberangan. Pertimbangan politik tampaknya menjadi alasan mengapa hal itu terjadi. Ketika kerajaan Gowa mengajak para penguasa di tanah Bugis untuk menerima Islam menjadi agamanya seperti yang terjadi di kerajaan Gowa. Di mata orang Bone hal itu dilihat sebagai upaya untuk menanamkan pengaruh dan kekuasaan kerajaan Gowa. Pandangan seperti itu dalam banyak hal mewarnai tingkah laku kerajaan-kerajaan besar di wilayah ini.
Setelah kerajaan Sidenreng, Soppeng dan Wajo menerima Islam, Raja Bone X digantikan oleh La Tenriruwa sebagai raja Bone XI. Mengetahui ada pergantian raja di Kerajaan Bone maka Sultan Alauddin (Raja Gowa) bersama pasukannya bergerak menuju Bone untuk bertemu dengan raja Bone yang baru. Kunjungan ini bertujuan untuk mengajak Raja La Tenriruwa dan rakyatnya untuk memeluk Islam. Ajakan Sultan Gowa ini nampaknya secara pribadi dapat diterima dengan baik namun mendapat tantangan oleh para Ade̢۪ pitu. (sejarah Islam di Sulawesi Selatan)
Menurut A. Zainal Abidin, penolakan atas Islam sebagai agama kerajaan pada waktu itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Mereka sukar meninggalkan kegemarannya makan babi, minum tuak, sabung ayam dan judi, beristri banyak, dan lain-lain.
2. Mereka khawatir akan dijajah kembali oleh Gowa. Mereka masih teringet akan perang yang dilancarkan oleh Raja-raja Gowa dahulu seperti I Manrigau Daeng Banto Tunipallangga Ulaweng dan I Tajibarani Daeng Marompa Tunibatta pada abad XVI.
Setelah itu, pada saat Islam masuk ke dalam struktur pemerintahan sebagai satu bagian yang menangani syariat Islam (Parewa Sara). Tugas raja dalam pengembangan agama Islam beralih kepada para pejabat sara atau Parewa Sara.
Dengan diterimanya Islam dan dijadikannya syariat Islam sebagai bagian dari pangngadereng, maka pranata-pranata sosial masyarakat Bonemendapatkan warna baru. Ketaatan mereka terhadap pangngadereng sama dengan ketaatannya terhadap syariat Islam.
Hal ini dikarenakan oleh penerimaan mereka terhadap Islam tidak banyak merubah nilai-nilai, kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah ada. Apa yang dibawa oleh Islam hanyalah urusan ubudiyah (ibadah) tanpa mengubah lembaga-lembaga dalam kehidupan masyarakat yang ada (pangngadereng).
Islam mengisi sesuatu dari aspek cultural dan sendi-sendi kehidupan mereka. Nilai-nilai kesusilaan yang bertujuan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia diselaraskan dengan konsep siri̢۪ yang begitu dijunjung tinggi oleh orang Bugis. Dengan jalan itu proses sosialisasi dan enkulturasi Islam masuk dalam kebudayaan orang Bone.
menjadi agamanya seperti yang terjadi di kerajaan Gowa. Di mata orang Bone hal itu dilihat sebagai upaya untuk menanamkan pengaruh dan kekuasaan kerajaan Gowa. Pandangan seperti itu dalam banyak hal mewarnai tingkah laku kerajaan-kerajaan besar di wilayah ini.
Setelah kerajaan Sidenreng, Soppeng dan Wajo menerima Islam, Raja Bone X digantikan oleh La Tenriruwa sebagai raja Bone XI. Mengetahui ada pergantian raja di Kerajaan Bone maka Sultan Alauddin (Raja Gowa) bersama pasukannya bergerak menuju Bone untuk bertemu dengan raja Bone yang baru. Kunjungan ini bertujuan untuk mengajak Raja La Tenriruwa dan rakyatnya untuk memeluk Islam. Ajakan Sultan Gowa ini nampaknya secara pribadi dapat diterima dengan baik namun mendapat tantangan oleh para Ade̢۪ pitu. (sejarah Islam di Sulawesi Selatan)
Menurut A. Zainal Abidin, penolakan atas Islam sebagai agama kerajaan pada waktu itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Mereka sukar meninggalkan kegemarannya makan babi, minum tuak, sabung ayam dan judi, beristri banyak, dan lain-lain.
2. Mereka khawatir akan dijajah kembali oleh Gowa. Mereka masih teringet akan perang yang dilancarkan oleh Raja-raja Gowa dahulu seperti I Manrigau Daeng Banto Tunipallangga Ulaweng dan I Tajibarani Daeng Marompa Tunibatta pada abad XVI.
Setelah itu, pada saat Islam masuk ke dalam struktur pemerintahan sebagai satu bagian yang menangani syariat Islam (Parewa Sara). Tugas raja dalam pengembangan agama Islam beralih kepada para pejabat sara atau Parewa Sara.
Dengan diterimanya Islam dan dijadikannya syariat Islam sebagai bagian dari pangngadereng, maka pranata-pranata sosial masyarakat Bonemendapatkan warna baru. Ketaatan mereka terhadap pangngadereng sama dengan ketaatannya terhadap syariat Islam.
Hal ini dikarenakan oleh penerimaan mereka terhadap Islam tidak banyak merubah nilai-nilai, kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah ada. Apa yang dibawa oleh Islam hanyalah urusan ubudiyah (ibadah) tanpa mengubah lembaga-lembaga dalam kehidupan masyarakat yang ada (pangngadereng).
Islam mengisi sesuatu dari aspek cultural dan sendi-sendi kehidupan mereka. Nilai-nilai kesusilaan yang bertujuan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia diselaraskan dengan konsep siri̢۪ yang begitu dijunjung tinggi oleh orang Bugis. Dengan jalan itu proses sosialisasi dan enkulturasi Islam masuk dalam kebudayaan orang Bone.

Sumber : http://bugis.lumak.net/

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Budaya Bugis

1. Latar Belakang Historis

Kebudayaan Bugis-Makassar adalah kebudayaan dari suku-suku Bugis-Makassar yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Jazirah itu adalah provinsi Sulawesi selatan sendiri yang sekarang terdiri dari 24 kabupaten. Mengenai asal mula suku Bugis, suku Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata Bugis berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana (Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.


Lain halnya dengan suku Bugis, nama Makassar berasal dari nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara’ berarti Mereka yang Bersifat Terbuka. Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin kerjasama dengan Bali, Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya.

1.2. Perkembangan

Suku Bugis-Makassar adalah suku yang sama-sama menempati Sulawesi selatan, berbicara tentang Makassar maka identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.


2.1. Keadaan Geografis dan Demografis

Populasi terbesar suku Bugis-Makassar terpusat di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sulawesi Selatan terletak di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang beribukotakan di Makassar terletak antara 0°12’ – 8° Lintang Selatan dan 116°48’ – 122°36’ Bujur Timur. Secara administratif berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di sebelah timur, batas sebelah barat dan timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores.

Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat 45.519,24 km2 yang secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi 24 kabupaten dan 3 kota, dengan 296 kecamatan dan 2.946 desa/kelurahan.

Saat ini, orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).

Kabupaten Luwu Utara merupakan kabupaten terluas dengan luas 7.502,68 km2 atau luas kabupaten tersebut merupakan 16,48% dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sedangkan Sulawesi Selatan, 42% dari luas seluruh pulau Sulawesi atau 4,1% dari luas seluruh Indonesia.

Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan Biro Dekonsentrasi Bagian Kependudukan Pemprov. Sulawesi Selatan pada tahun 2008 berjumlah 7.874.439 jiwa, dengan persentase yang bersuku Bugis-Makassar sekitar 85 persen, yang tersebar di 24 kabupaten/kota, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.265.521 jiwa (16,07%) mendiami Kota Makassar. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Makassar dimungkinkan karena terjadinya arus urbanisasi dari daerah lainnya di Sulawesi Selatan terutama untuk melanjutkan pendidikan, disamping daerah ini merupakan pusat pemerintahan dan konsentrasi kegiatan ekonomi.

Kepadatan penduduk per km2 di Sulawesi Selatan rata-rata 173 jiwa/km. Kota Makassar merupakan kabupaten/kota terpadat (7.200 jiwa/km2), menyusul Kota Parepare (1.201 jiwa/km2) kemudian Kota Palopo (842 jiwa/km2). Sedangkan kab/kota dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu kab. Luwu Timur (34 jiwa/km2), Luwu Utara (39 jiwa/km2) dan Enrekang (94 jiwa/km2). Tujuh belas (17) kabupaten lainnya rata-rata mempunyak tingkat kepadatan penduduk antara 100-500 jiwa/km2 yaitu Selayar Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Sinjai, Maros, Pangkep, Barru, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Tator dan Luwu. Masyarakat Bugis-Makassar tersebar di dataran rendah yang subur dan sekitar pesisir pantai. Iklim yang adapun terbilang seimbang karena tiap tahunnya terjadi pergantian musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Perubahan musim yang terjadi tiap tahunnya membuat wilayah ini sebagai wilayah yang subur yang dapat ditumbuhi berbagai jenis tanaman.

2.2. Bentuk Perkampungan

Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Suatu kampong lama, biasanya terdiri dari sejumlah keluarga yang mendiami 10-200 rumah, letak rumahnya berderet menghadap ke selatan atau barat. Jika terdapat sungai di desa maka diusahakan agar rumah-rumah dibangun dengan gaya membelakangi sungai. Pusat dari kampong lama merupakan suatu tempat keramat (pocci tana) dengan suatu pohon waringin yang besar dan kadang-kadang terdapt juga rumah pemujaan (saukang).

Sebuah kampong lama dipimpin seorang motowa (kepala desa) beserta kedua pembantunya disebut sariang atau parennung. Gabungan kampong dalam struktur asli disebut wanua dalam bahasa Bugis pa’rasangan atau bori dalam bahasa Makassar. Pemimpin wanua disebut (arung palili) untuk suku Bugis, Makassar sendiri yakni(karaeng) .

Bentuk rumah dan masjid, dibangun diatas tiang dan terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsi khusus yaitu : a. rakaeng dalam bahas Bugis atau pammakkang dalam bahasa Makassar, yakni bagian rumah dibawah atap yang dipakai untuk menyimpan padi, persediaan pangan, dan juga benda-benda pusaka b. awaso dalam bahasa Bugis atau passiringang dalam bahasa Makassar, bagian dibawah lantai panggung dipakai untuk, menyimpan alat-alat pertanian , kandang ayam, kambing, dan sebagainya. Pada zaman sekarang tempat ini berubah fungsi menjadi tempat tinggal manusia.

Hampir semua rumah Bugis dan Makassar yang berbentuk adat, mempunyai suatu pangggung di depan pintu masih dibagian atas dari tangga, panggung ini biasa disebut tamping, tempat bagi para tamu untuk menunggu sbeleum dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk keruang tamu.

Proses pembangunan untuk rumah suku Bugis dan Makassar, biasanya menggunakan beberapa ramuan pada tiang utama yang akan didirikan, bahakan, kadang-kadang menggunakan kepala kerbau setelak kerangka rumah berdiri. Proses semacam ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya malapetaka.

2.3. Sistem Kekerabatan

a) Pernikahan

Pernikahan adalah salah satu cara untuk melanjutkan keturunan berdasarkan cinta kasih, selanjutnya pernikahan juga memperat hubungan antar keluarga, antar suku, bahkan antar bangsa. Dengan hubungan pernikahan dapat membuat suatu ikatan yang disebut massedi siri berarti bersatu dalam mendukung dan mempertahankan kehormatan keluarga. Pernikahan ideal yakni terjadi bila mereka mendapat jodoh dalam lingkup keluarganya sendiri seperti a) siala massappisiseng yakni pernikahan antarsepupu sekali, b) siala massappokadua yakni pernikahan antrsepupu kedua kali, c) siala massappokatellu yakni pernikahan antara spepupu ketiga kali

b) Pembatasan jodoh

Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya pelapisan sosial golongan, maka terjadi pula pembatasan jodoh dalam hubungan pernikahan. Pada zaman lampau anak keturunan bangsawan dilarang berhubungan dengan orang biasa, jika dilanggar maka pasangan ini dikenakan hukuman riladung yang artinya pelanggar dikenakan hukuman berat yaitu keduanya akan ditenggelamkan kedalam air.

c) Syarat-Syarat Untuk Menikah

Seorang pria yang akan menikah harus memenuhi syarat yakni : nallebi mattulilingi dapurengnge wekka pittu, artinya ia harus mampu mengelilingi dapur sebanyak tujuk kali, bila ia mampu mengadakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari maka ia boleh kawin.

d) Tata Cara Peminangan

Mappesek-pesek suatu cara untuk mengetahui sudah terikatnya si wanita yang dipilih atau tidak samasekali.

Madduta yakni pengiriman utusan dari pihak pria untuk mengajukan lamaran. Utusan ini harus orang yang dituakan dan tahu seluk beluk madduta.

e) Waktu Pelaksana Pernikahan

Tahap yang ditempuh untuk menikah yakni acara mappetu ada atau memutuskan kata sepakat, di acara ini juga dibahas masalah tanra esso (penentuan hari), balanca (uang belanja), dan sompa (mahar)

f) Mappacci

Mappacci yakni perawatan bagi calon pengantin wanita sebelum pelaksaan pernikahan.

Selain upacara pernikahan terdapat juga upacara keselamatan kehamilan dan upacara kematian, dalam upacara keselamatan kehamilan tahapan yang dilakukan yakni: makkampai sandro (menghubungi dukun), mappare to mangideng (memberi makan orang mengidam. Dalam upacara kematian biasanya diutus dua atau tiga orang untuk memberi tahu kerabat dekat kemudian, penguburan akan dilaksanakan, setelah dilaksanakan akan diadakan bilampeni atau upacara keselamatan yang diadakan sejak hari penguburan jenazah, dan mattampung pada hari ketujuh dan kesembilan diadakan upacara ini.

2.4. Sistem Kemasyarakatan

H. J. Friedericy menggambarkan pelapisan masyarakat Bugis dan Makassar yang dibuatnya berdasarkan buku kesusteraan asli Bugis dan Makassar, la galigo. Menurut nya terdiri dari tiga lapisan yakni:

a) anakarung atau ana’karaeng dalam bahasa Makassar. Lapisan ini adalah lapisan kaum kerabat raja-raja.
b)  to maradeka dalama bahasa Makassar, lapisan ini adalah lapisan orang merdeka.
c)  ata, yakni lapisan budak.

Dalam usahanya untuk mencari latar belakang terjadinya pelapisan masyarakat, Friedericy berpedoman kepada peranan tokoh-tokoh yang disebut dalam la galigo dan ia berkesimpulan, bahwa masyarakat Bugis dan Makassar pada mulanya hanya terdiri dari dua lapisan masyarakat. Lapisan Ata merupakan suatu perkembangan kemudian yang terjadi dalam zaman perkembangan dari organisasi-organisasi pribumi di Sulawesi Selatan.
Pada abad ke-20 lapisan ata dihilangkan karena larangan dari pemerintah colonial dan desakan dari tokoh agama setempat. Sesudah perang dunia ke-2, arti dari perbedaan antara lapisan karaeng, to maradeka, dan ata. Dalam kehidupan masyarakat juga sudah mulai berkurang dengan cepat, walaupun masih dipakai, toh tidak lagi mempunyai arti seperti dulu dan sekarang justru sering diperkecil dengan sengaja . Sebab Stratifikasi social lama, sering dianggap sebagai hambatan untuk kemajuan.

2.5. Religi dan Adat yang Keramat

Orang Bugis dan Makassar yang tinggal di daerah pedesaan masih terkait norma-norma yang keramat dan sifatnya sakral, biasa disebut panngaderreng. Sistem adat ini terbagi menjadi 5 unsur:

a) Ade, terbagi menjadi dua
Ade akkalabinengeng, unsur ini mengenai hal ikhwal perkawinan serta hubungan kekerabatan dan sopan santun dalam pergaulan antarkerabat.
Ade tana, unsur ini mengenai hal ikhwal bernegara dan memerintah suatu negara berwujud hokum negara, hokum antarnegara, serta etika dan pembinaan insan politik.
b) Bicara, adalah konsep yang bersangkut paut dengan paradilan atau kurang lebih sama dengan, hukum acara serta hak-hak dan kewajiban seseoranmng yang mengajukan kasusnya ke pengadilan.
c) Rappang, berarti contoh, perumpamaan, kias, atau anologi. Unsur ini menjaga kepastian dari suatu hukum tak tertulis, dalam masa lampau sampai sekarang. Selain itu rappang juga berisi pandangan-pandangan keramat untuk mencegah tindakan-tindakan yang bersifat gangguan terhadap hak milik, serta ancaman terhadap warga negara.
d) Wari, adalah unsur yang mengklasifikasikan segala benda, peristiwa, dan aktifitas dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, untuk memelihara tata susunan dan tata penempatan benda di kehidupan bermasyarakat, untuk memelihara jalur keturunan yang mewujudkan pelapisan sosial, untuk memelihara hubungan kekerabatan antara raja suatu negara dengan raja negara lain.
e) Sara, unsur yang mengandung pranata-pranata dan hukum islam, serta unsur yang melengkapi keempat unsur lainnya.

Religi suku Bugis dan Makassar pada zaman pra islam adalah sure galigo, sebenarnya keyakinan ini telah mengandung suatu kepercayaan pada satu dewa tunggal, biasa disebut patoto e (dia yang menentukan nasib), dewata seuwae (tuhan tunggal), turie a rana (kehendak yang tertinggi). Sisa kepercayaan ini masih tampak jelas pada orang To latang dikabupaten Sidenreng Rappang dan orang Amma Towa di Kajang kabupaten Bulukumba.

Saat agama islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaran agama islam mudah diterima masyarakat. Karena sejak dulu mereka telah percaya pada dewa tunggal. Proses penyebaran islam dipercepat dengan adanya kontak terus menerus antara masyarakat setempat dengan para pedagang melayu islam yang telah menetap di Makassar.

Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang taik sesuai dengan ajaran Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam di Sulawesi Selatan telah juga mengalami proses pemurnian.

Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota terutama di Makassar.

Kegiatan-kegiatan da'wah Islam dilakukan organisasi Islam yang amat aktif seperti Muhammadiyah, Darudda'wah wal Irsjad, partai-partai politik islam dan Ikatan Mesjid dan Mushalla dengan Pusat Islamnya di Makassar.

2.6. Mata Pencaharian Hidup

Masyarakat Bugis dan Makassar pada umumnya adalah petani seperti penduduk dari daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka menanam padi bergiliran dengan palawija di sawah. Teknik bercocok tanamnya juga seperti di tempat-tempat lain di Indonesia masih berisfat tradiosonal berdasarkan cara-cara intensif dengan tenaga manusia. Di berbagai tempat di pegunungan, di pedalaman dan tempat-tempat terpencil lainnya di Sulawesi Selatan, banyak penduduk masih melakukan bercocok tanam dengan teknik peladangan.

Adapun mereka yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata pencarian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Bugis dan Makassar menangkap ikan dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Memang orang Bugis dan Makassar terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka yang dari tipe penisi dan lambo telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang. Kebudayaan maritim dari orang Bugis-Makassar itu tidak hanya mengembangkan perahu-perahu layar dan kepandaian berlayar yang cukup tinggi, tetapi juga meninggalkan suatu hukum niaga dalam pelayaran, yang disebut Ade' Allopi-loping Bicaranna Pabbalu'e dan yang tertulis pada lontar oleh Amanna gappa dalam abad ke-17. Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Bugis dan Makassar, akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu. Sebelum Perang Dunia ke-II, daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah surplus bahan makanan, yang mengekspor beras dan jagung ke tempat-tempat lain di Indonesia. Adapun kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutera dari Mandar dan Wajo dan tenunan sarung Samarinda dari Bulukumba.

2.7. Bahasa, Kesusasteraan, dan Tulisan

Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut bahas ugi sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni, aksara lontara yaitu sebuah system huruf yang asalnya dari huruf sansekerta ( brahmi kuno dari India).

Mengenai kesusteraan Bugis-Makassar sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Utamanya, dalam naskah-naskah kesusteraan lontara. Adapun naskah-naskah kuno yang ditulis di daun lontara, kini sangat sulit didapatkan. Naskah kuno yang ada kini, hanya yang tertulis diatas kertas maupun lidi ijuk(kallang), diantara buku terpenting dalam kesusteraan suku Bugis-Makassar terdapat buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.

Tetapi, ada juga himpunan kesusteraan yang isinya sebagi pedoman dan tata kelakuan untuk setiap individu, seperti himpunan amanat dari nenek moyang(paseng), himpunan undang-undang, keputusan dan peraturan pemimpin adat(rappang), kemudian terdapat juga himpunan kesusasteraan yang mengandung sejarah, seperti silsilah raja-raja(attoriolog) dan cerita mengenai para pahlawan yang dibubuhi cerita legendaries(pau-pau). Serta, banyak lagi yang berisi syair, nyanyian, dan teka-teki.

3.1. Ringkasan

Suku Bugis-Makassar mendiami bagian terbesar dari jazirah Pulau Sulawesi. Suku Bugis dan Makassar merupakan dua suku yang masih serumpun, yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia. Persentase jumlah penduduk suku Bugis di Sulawesi Selatan adalah sekitar 62,5% dan suku Makassar sekitar 26,7%. Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Sistem kekerabatan dalam kebudayaan Bugis-Makassar masih cukup kental seperti dapat dilihat dalam proses perkawinan yang memiliki beberapa ketetapan ideal. Lapisan masyarakat Bugis dan Makassar terdiri dari 3 yaitu anak arung atau lapisan kaum kerabat raja-raja, to maradeka atau lapisan orang merdeka dan ata atau lapisan orang budak.

Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Karena masyarakat Bugis dan Makassar tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Kemudian ada sisi seni juga yang biasanya menjadi mata pencarian bagi suku Bugis dan Makassar, yakni pembuatan sarung tenun sutra. Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut bahas ugi sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni, aksara lontara. Diantara buku terpenting dalam kesusasteraan suku Bugis-Makassar adalah buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.

3.2. Potensi Pengembangan di Era Modernisasi

Potensi paling besar bagi masyarakat Bugis-Makassar adalah dalam sektor pelayaran rakyat dan perikanan, karena usaha-usaha ini sudah merupakan usaha-usaha yang telah dijalankan sejak beberapa abad lamanya oleh orang Bugis-Makassar, sehingga dapat dikatakan telah mendarah daging dalam alam jiwa mereka.


...Lihat Selengkapnya
gravatar

Sureq Galigo Buatan Suku Bugis


Sureq Galigo dari abad ke-19
Sureq Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.
Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim atau perusakan.Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar. Akibatnya, tidak ada versi

Latar belakang dan usaha pelestarian

Ada dugaan pula bahwa epik ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum epik Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.
La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.
Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Sejauh ini GaligoGaligo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninkelijk Instituut Taal Land en Volkenskundig Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain. hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari
Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.

Isi hikayat La Galigo

Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.
Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.
Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan SundaSunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu. Timur dan
Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.
Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'.
Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.

La Galigo di Sulawesi Tengah

Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu'.
Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi' Buri' (Tasik Buri).
Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu'. Sesampainya tentara Luwu', kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.
Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.
Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.

La Galigo di Sulawesi Tenggara

Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.
Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi', artinya, 'Yang tinggal di surga'. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.
Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).

La Galigo di Gorontalo

Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.
Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.

La Galigo di Malaysia dan Riau

Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.
Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh 'Keraing Semerluki' dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo', dimana nama sebenarnya ialah Sumange'rukka' dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.
Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah GoaPerjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo'. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta' Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko' dari Peneki, sebuah daerah di Wajo', menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma'dukelleng, juga ke Johor. La Ma'dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda. untuk mengaku kalah dengan menandatangani
Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng MerewahRiau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ketiga), Opu Daeng ManambungOpu Daeng Cella' (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana). menjadi Yang Dipertuan (menjadi Sultan Mempawah dan Matan),
Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke', menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu'. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun demikian, anaknya, yaitu Datu Palinge' kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo.

La Galigo dalam seni pentas

La Galigo sudah diadaptasi ke dalam seni pentas oleh sutradara Robert Wilson setelah diadaptasi oleh Rhoda Grauer. Pertunjukan ini telah dipertunjukkan sejak tahun 2004 di Asia, Eropa, Australia dan Amerika Serikat.
Bissu Puang Matoa Saidi
Dalam bagian-bagian dari cerita yang dikisahkan, para aktor tidak saling berbicara tapi mengekspresikan diri mereka melalui tari dan gerak tubuh. Bagian cerita dinarasi oleh seorang narator dalam versi bahasa Bugis aslinya. Pertunjukan sepanjang tiga jam ini disertai dengan penggunaan ekstensif efek cahaya untuk karakteristik pekerjaan Wilson dan disertai pula oleh musik oleh ansambel panggung. Pertunjukan ini menggunakan musik tradisional Sulawesi, namun sebenarnya telah disusun dan diproduksi oleh komponisJawa Rahayu Supanggah setelah riset yang intensif di Sulawesi Selatan. 
Untuk menciptakan ekspresi dramatis yang lebih baik, instrumen Jawa dan Bali lainnya ditambahkan ke dalam lima instrumen Sulawesi tradisional aslinya, dan instrumen lain yang baru juga dibuat, sehingga akhirnya terdapat 70 instrumen yang dimainkan oleh 12 musisi. Para pelaku produksi pentas ini terdiri dari 53 pemusikpenari yang semuanya datang secara ekslusif dari Indonesia dan sebagian besar dari Sulawesi, serta salah satu dari sedikit pendeta tradisional bissu (pendeta banci) Bugis, yang tersisa dari komunitas banci Bugis, Puang Matoa Saidi yang menceritakan sebagian dari cerita.

...Lihat Selengkapnya
gravatar

Raja Haji pahlawan teragung Nusantara

MASYARAKAT Melayu masih ramai belum mengetahui bahawa di Melaka ada beberapa orang tokoh dunia Melayu yang terkorban sebagai syuhada kerana membela kemuliaan Islam dan bangsa Melayu.
Mereka sanggup berkorban apa saja, termasuk harta dan nyawa, demi berjuang mengusir penjajah Portugis mahupun Belanda. Di antara sekian ramai yang gugur sebagai syuhada termasuklah seorang 'ulama' sufi dunia Melayu yang paling terkenal. Beliau bermakam di Melaka. Ulama yang dimaksudkan ialah Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i yang terkorban sebagai syuhada kerana berperang dengan Portugis.
Sejarah yang penting tentang tokoh besar yang syahid fisabilillah di Melaka juga ialah Raja Haji bin Upu Daeng Celak yang terkorban kerana melawan penjajah Belanda. Saya berpendapat bahawa Raja Haji ialah pahlawan dunia Melayu yang terbesar atau teragung dan terhebat semacam Hang Tuah memandangkan daerah operasinya di daratan dan maritim yang amat luas. Raja Haji inilah yang menjadi topik perbicaraan dalam artikel ini.
Daripada sebelah ayahnya, Raja Haji berasal daripada keturunan raja-raja di tanah Bugis, negeri Luwuk. Di sebelah ibunya pula berasal daripada keturunan raja-raja Melayu. Raja Haji lahir di Kota Lama, di Hulu Sungai Riau, pada tahun 1139 H/1727 M dan wafat pada hari Rabu di Teluk Ketapang, Melaka, 19 Rejab 1198 H/8 Jun 1784 M.
Hubungan dengan ulama
Raja Haji walaupun bukan seorang ulama, namun dibicarakan juga dalam ruangan ini, disebabkan beberapa faktor. Pertama adalah kerana beliau sempat bergaul dengan beberapa orang ulama. Dipercayai beliau sempat berjumpa dengan Saiyid Husein al-Qadri di Mempawah, iaitu guru ayah saudaranya Upu Daeng Menambon. Putera Upu Daeng Menambon bernama Gusti Jamiril ini mendapat pendidikan Islam yang padu. Gusti Jamiril adalah saudara sepupu Raja Haji, kedua-duanya sempat bergaul. Dengan demikian tata cara pergaulan Islam, sekali gus amalan keilmuan saudara sepupunya itu, berpengaruh terhadap Raja Haji.
Dalam masa yang sama Raja Haji dan Gusti Jamiril sempat belajar kepada Syeikh Ali bin Faqih yang berasal dari Patani. Beliau ini ialah Mufti Mempawah yang kedua, menggantikan Saiyid Husein al-Qadri. Makam beliau disebut 'Keramat Pokok Sena' terletak di Perkuburan Kampung Pedalaman Mempawah. Hubungan Raja Haji dengan Saiyid Abdur Rahman bin Saiyid Husein al-Qadri, Sultan Pontianak yang pertama juga sangat dekat. Saiyid Abdur Rahman al-Qadri ialah suami Utin Cenderamidi bin Upu Daeng Menambon. Faktor kedua, daripada keturunan Raja Haji ramai yang menjadi ulama di antaranya Raja Ali Haji (cucu beliau) yang sangat terkenal itu. Keturunan beliau yang turut menjadi ulama ialah Raja Haji Umar bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji dan lain-lain.
Gelaran yang disandang
Raja Haji menyandang pelbagai gelaran yang diberikan antaranya ialah Engku Kelana (1747M - 1777M), Pangeran Sutawijaya, Yang Dipertuan Muda Riau-Johor IV (1777M - 1784M), Raja Api, Marhum Teluk Ketapang, Marhum Asy-Syahid fisabilillah. Yang terakhir, secara rasmi atas nama sebuah pemerintahan, Raja Haji dianugerahi gelaran Pahlawan Nasional Indonesia memperoleh Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Republik Indonesia di Jakarta pada 11 Ogos 1997.
Tahun 1756M - 1758M Raja Haji bersama sepupunya Daeng Kemboja memimpin Perang Linggi melawan Belanda. Perang Linggi melibatkan pasukan-pasukan Melayu yang berasal dari Linggi, Rembau, Klang, Selangor dan Siak.
Sewaktu Syarif 'Abdur Rahman al-Qadri memerangi Sanggau, Raja Haji ialah sebagai Pahlawan Perang. Perang berlaku pada 26 Muharam 1192H/24 Februari 1778 M sehingga 11 Safar 1192H/11 Mac 1778 M. Raja Haji pula melantik Syarif Abdur Rahman al-Qadri sebagai sultan yang pertama Kerajaan Pontianak sekali gus Raja Haji menyusun kerangka pentadbiran kerajaan itu.
Raja Haji merupakan satu-satunya pahlawan Nusantara yang pernah menjejak kakinya hampir ke seluruh negeri-negeri Melayu. Di antaranya Terengganu, Pahang, Johor, Selangor, Kedah, Langkat, Inderagiri, Jambi, Muntok/Bangka, Pontianak, Mempawah dan lain-lain. Jika kita bandingkan dengan semua pahlawan di Nusantara, seumpama Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan lain-lain, mereka hanya beroperasi di daratan saja dan tidak mengalami perang maritim. Jika kita bandingkan dengan Sultan Hasanuddin, beliau ialah seorang pahlawan maritim saja, tidak banyak pengalaman dalam peperangan di daratan. Kalau ada hanyalah sekitar Sulawesi Selatan.
Kalau kita banding dari segi yang lain pula, bukan bererti memperkecil-kecilkan pejuang yang lain, tetapi sejarah mencatatkan bahawa ramai pejuang ada yang menyerah kepada penjajah. Ada yang tertangkap kerana ditipu secara licik dan lain-lain. Semua yang tersebut berbeza dengan Raja Haji. Beliau lebih rela mati di medan juang daripada menyerah ataupun tertipu oleh pihak musuh. Pada 18 Jun 1784 M Raja Haji terbunuh sebagai syahid fisabilillah dalam peperangan melawan Belanda pimpinan Jacob Pieter van Braam di Melaka. Pasukan Melayu yang tewas bersama Raja Haji dianggarkan sekitar 500 orang. Sebagaimana pada mukadimah yang telah saya nyatakan, "... Raja Haji bin Upu Daeng Celak merupakan pahlawan dunia Melayu yang terbesar atau teragung dan terhebat sesudah Hang Tuah...."
Walau bagaimanapun, haruslah kita sedar bahawa kisah Hang Tuah lebih bercorak mitos. Berbeza dengan Raja Haji. Kisah beliau tercatat sebagai sejarah yang dibuktikan dengan data dan fakta yang tidak dapat ditolak. Oleh itu jika ditinjau dari segi sejarah bererti 'Raja Haji pahlawan dunia Melayu yang terbesar dan terhebat, bukan Hang Tuah.'
Kejadian aneh
Raja Ali Haji dalam Tuhfat an-Nafis meriwayatkan kejadian aneh terhadap jenazah Raja Haji setelah mangkat dalam keadaan syahid fisabilillah seperti berikut, "Syahdan adalah aku dapat khabar daripada itu daripada orang tua-tua yang mutawatir, adalah sebelum lagi ditanamnya mayat Yang Dipertuan Muda Raja Haji, al-Marhum itu, maka ditaruhnya di dalam peti hendak dibawanya ke Betawi, sudah sedia kapal akan membawa jenazah al-Marhum itu. Maka menantikan keesokan harinya sahaja, maka pada malam itu keluar memancar ke atas seperti api daripada peti jenazah al-Marhum Raja Haji itu. Maka gaduhlah orang Melaka itu melihatkan hal yang demikian itu. Di dalam tengah bergaduh itu kapal yang akan membawa jenazah al-Marhum itu pun meletup, terbakar, terbang ke udara segala isinya serta orang-orangnya. Seorang pun tiada yang lepas.
"Syahdan kata qaul yang mutawatir, tiadalah jadi dibawa jenazah al-Marhum itu pindah ke negeri yang lain. Maka ditanamkan jua di Melaka itu, hingga datang diambil dari negeri Riau adanya. Dan kata setengah qaul yang mutawatir sebab itulah digelar oleh Holanda yang dahulu-dahulu dengan nama Raja Api adanya...." (Tuhfat an-Nafis, Naskhah Terengganu, hlm. 151)
Pada pandangan saya riwayat di atas mencerminkan kemuliaan seseorang yang wafat dalam syahid fisabilillah kerana berjuang untuk kepentingan agama Islam atau memperjuangkan bangsanya, iaitu bangsa Melayu yang dicintainya. Perjuangan demikian mencerminkan kerana patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh itu tulisan Abdullah Munsyi dalam buku Hikayat Abdullah yang mengatakan bahawa mayat Raja Haji ditanam tempat kandang babi perlu dipertikaikan dan dibahas secara ilmiah. Tulisan Abdullah Munsyi selengkapnya sebagai berikut, "Sebermula di balik kebun kompeni itulah ditanamkan Raja Haji. Iaitu seorang Raja Melayu yang berkuasa adanya. Asalnya iaitu keturunan Bugis. Maka isterinya bernama Ratu Emas. Maka ialah yang telah datang memerangi Melaka pada zaman Holanda – maka adalah daripada zaman itu sampai masa ini (maksudnya hingga masa Abdullah Munsyi menulis hikayatnya, pen:) kira-kira lebih sedikit daripada 60 tahun – maka hampir-hampir dapat Melaka olehnya. Maka berkeliling jajahan Melaka dan kampung-kampung semuanya sudah didapatnya melainkan tinggallah Melaka bulat-bulat sahaja yang belum didapatnya. Maka pada masa itu segala bangsa yang ada di dalam Melaka masuk perang melawan Holanda daripada Melayu, Keling, Cina, Serani masing-masing ada dengan kapitannya dan kepala perangnya. Maka adalah beberapa tahun diperanginya lalu matilah Raja Haji itu dimakan peluru di Tanjung Palas nama tempatnya. Kemudian diambil Holanda mayatnya itu ditanamkan di balik kebun yang tersebut itu. Ada pun khabarnya yang kudengar, tempat itu kandang babi. Kemudian ada kira-kira 20, 30 tahun di belakang datanglah anak buah-anak buah Raja Haji itu dari Lingga dan Riau ke Melaka meminta izin kepada raja Inggeris hendak dipindahkannya kubur itu ke Riau. Maka diberikanlah izin. Lalu dibawanyalah pergi...." (Hikayat Abdullah, hlm. 57 - 58)
Riwayat Abdullah Munsyi tentang Raja Haji ditanam di kandang babi adalah sukar diterima disebabkan: Pertama, jauh berbeza dengan yang ditulis oleh Raja Ali Haji seperti tersebut di atas. Kedua, orang yang wafat keadaannya syahid fisabilillah adalah dimuliakan oleh Allah s.w.t.. Dalam al-Quran disebutkan bahawa "orang-orang yang mati syahid adalah tidak mati, dalam kubur mereka diberi rezeki." Dalam hadis Nabi s.a.w. pula sangat banyak menyebutkan kelebihan orang yang mati syahid. Pandangan saya ini bukan bererti menuduh Abdullah Munsyi telah melakukan pembohongan dalam tulisannya, kerana beliau sendiri menyebut pada awal kalimatnya, "Ada pun khabarnya yang kudengar". Oleh itu pelbagai andaian boleh dibuat. Yang pertama, boleh jadi khabar yang didengar itu sengaja diproses oleh pembohong-pembohong daripada kalangan penguasa penjajah ketika itu untuk menghapuskan kebangkitan jihad orang-orang Melayu Islam yang tidak suka negerinya dijajah oleh golongan yang bukan Islam. Kedua, kemungkinan tekanan kuasa penjajah memaksa supaya Abdullah Munsyi menulis sedemikian. Oleh itu kita perlu berfikir dan teliti setiap kalimat dan perkataan yang ditulisnya.
Selain itu jika kita berfikir secara kritis dan membuat analisis secara bebas, khusus pada konteks di atas, memang banyak kalimat ataupun perkataan demi perkataan Abdullah Munsyi mengandung unsur-unsur politik yang menguntungkan pihak penjajah pada zamannya. Sebagai contoh, walaupun Abdullah Munsyi mengakui bahawa Raja Haji adalah seorang Raja Melayu, namun pada sambungan kalimat Abdullah Munsyi menyebut pula bahawa asal Raja Haji adalah keturunan Bugis. Kenapa Abdullah Munsyi tidak menyebut Raja Haji dari sebelah ibunya adalah keturunan Melayu. Di sini dapat diduga, jika disebut Raja Haji orang Melayu semangat orang Melayu untuk berpihak kepada Raja Haji sukar dipadamkan.

Sumber: Wikipedia (Wan Mohd. Shaghir Abdullah)

...Lihat Selengkapnya

Pasang Iklan Gratis!, ayo buruan

Pasang Iklan Gratis!, ayo buruan
Anda berminat pasang iklan gratis diblog ini, zise 200x200, segera hubungi Admin karena iklan yang kami terimah sangat terbatas, atas partisipasinya kami ucapkan banyak terimah kasih, salam Makassar! (jml)

New Year 2011

Selamat Menantikan tahun baru 2011

Indogoo.com

Indogoo.com adalah sebuah website social networking yang khusus dibuat untuk orang indonesia

Festival BLOG 2010

Buruan ikutan Festival BLOG 2010 dan mari budayakan berinternet sehat bikin hebat!